Gerbong Nomor Tiga

Gerbongku berada nomor empat dari belakang. Entah mengapa disebut gerbong bisnis nomor tiga. Kata seorang pria yang duduk di sampingku, gerbong paling belakang memang bukan gerbong penumpang.

Entahlah. Aku tadi tak memperhatikan gerbong apa yang ada di rangkaian terakhir kereta ini. Begitu kereta masuk di Stasiun Purwokerto, aku bergegas mencari gerbongku dan menyamankan pantat di bangku 14 D. Persisnya tak lama setelah mengusir dengan halus orang yang menduduki bangkuku itu dan memutar sandarannya ke arah depan. Baca lebih lanjut

Mengapa Saya Menolak Timur Pradopo?

Pada 19 Oktober 2010, DPR akhirnya menyetujui pencalonan Komisaris Jenderal Timur Pradopo sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Beritanya terpinggirkan, atau memang sengaja dipinggirkan, oleh hiruk-pikuk pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional dan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono.

Tulisan ini sebenarnya ingin saya buat pekan silam, usai Timur menjalani fit and proper test di DPR. Namun baru sekarang saya bisa menulisnya. Better late than never, kata orang Inggris. Jadi, sementara orang lain sudah pindah ke isu satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, perkenankan saya masih berkutat pada soal usang ini. Baca lebih lanjut

Perbincangan Saat Kuis

Hari ini, saya mengadakan kuis untuk mata kuliah Jurnalisme Online di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. Dalam kuis yang diikuti 10 dari 26 orang mahasiswa ini, terlontar beberapa perbincangan yang sempat saya tulis sebagai posting twitter dan sekarang saya salin di sini:

“Ya, halo.. Cepetan, lagi kuis”

“Pak, jawabannya boleh ngacak, ya?”
“Boleh. Yang nggak boleh kalau jawabannya salah”. Baca lebih lanjut

Siang di Perempatan Lebak Bulus

Minggu siang, di perempatan Lebak Bulus
Saat matahari sengat kepala

Dua gadis kecil naik ke atas Kopaja
Menengadahkan tangan, harapkan belas kasihan seadanya

Selembar uang ribuan diterima dengan suka cita

Pattimura digabungkan dengan recehan dalam botol akua
Kemudian dibagi dua

Kerjasama sederhana
Dua insan muda belia
Yang seharusnya sedang bergembira
Di tengah sanak saudara

Bukan koalisi berbagi kuasa
Untuk jarah uang rakyat, esok lusa

Sehari Usai Pemilu

Gadis cilik ditemani wanita setengah baya
naik ke dalam bus

Pukul setengah sepuluh malam
Sehari usai Pemilu Parlemen 2009

Bus berjalan perlahan, tinggalkan belahan barat ibukota
Wanita setengah baya memutar kaset disko dangdut
Bersaing dengan gemuruh mesin dan roda menggilas jalan tol

Gadis kecilpun bernyanyi
Mencoba kalahkan deru bus dan dentum musik

Ini bukan kicauan calon anggota dewan
Yang berbulan-bulan jual tampang
Menyesaki ruang publik dengan ribuan bualan

Gadis cilik bermata letih bermuka enggan
Seharusnya sudah lelap di peraduan

Larut malam masih kumpulkan recehan
Di negeri yang baru saja buang duit triliunan
Agar ratusan orang bisa ngantor di Senayan

Sang gadispun berhenti benyanyi
Tertidur di bangku kosong
Coba puaskan kantuk yang menyerang

Ini bukan panggung politik negeri
tempat ratusan ribu cangkem baru saja berhenti umbar janji
Dan segera diganti babak baru panggung komedi

Tidak ada ratusan ribu simpatisan
Yang menunggu uang bayaran

Hanya puluhan tubuh tergeletak lelah
Di atas bus bertarif dua ribu lima ratus rupiah

Jangan Berubah Menjadi Tabloid Gosip, Sahabat!

Fm MagazineDi pekan kedua awal tahun ini, sebuah majalah wanita terbitan kelompok media kantor saya dulu menurunkan satu tulisan utama berjudul “Office Affair”.

Istilah “affair” di sini bukan terjemahan dari “urusan” seperti dalam “internal affair” atau “foreign affair”. Jadi, “office affair” bukanlah bagian atau orang yang bertugas mengurusi kantor. “Affair” di sini dimaksudkan sebagai sinonim “perselingkuhan”. Generasi di atas saya menyebutnya sebagai “main gila”. Jadi artikel di majalah itu – katakanlah bernama majalah “fm” – berniat menyampaikan tema “perselingkuhan antar-karyawan di dalam kantor”.

Satu hal yang mengejutkan saya, artikel ini dibuka dengan cerita perselingkuhan antara Boy dan Ririen di PT. Semesta Harapan. Disebutkan dalam artikel itu, perselingkuhan mereka menjadi buah bibir seluruh kantor karena suami Ririen mengirimkan email ke HRD dan bocor ke seluruh karyawan. Hmm.. Mau tidak mau, saya langsung menerjemahkan cerita ini sebagai saduran gosip yang menerpa saya dan sahabat dekat saya satu tahun terakhir sebelum saya mengundurkan diri dari kantor itu. :(

Bagaimanapun, terima kasih sudah memilih nama “Boy”, bukan “Sarimin” atau “Suharto”. Bukankah Boy dikenal “baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar”? :)

Namun saya tetap heran melihat majalah wanita sekelas fm menggunakan gosip murahan sebagai bahan artikel utamanya. Tentu saja dengan mengubah nama dan perusahaan, saya tidak mungkin menyampaikan keluhan atau hak jawab. Okelah, kalian membuat tulisan yang aman secara jurnalistik. Tapi dengan memasukkan “sampah” ke dalam tulisan, artikel utama tersebut otomatis menjadi artikel sampah. Sayang, bukan?

Saya dengan sangat terpaksa harus mengambil kesimpulan bahwa penulis artikel ini tidak sanggup melihat satu peristiwa secara utuh. Dia hanya mendengar gosip di seputaran kantor, kemudian sejenak melakukan “wawancara dengan langit-langit” dan terinspirasi membuat tulisan. Tipikal wartawan yang datang ke jumpa pers, menikmati hidangan dan kemudian membuat tulisan berdasarkan siaran pers. Mudah-mudahan ini disebabkan deadline yang ketat, bukan karena kualitas si penulis.

Kalau penulis mau sedikit menggali lebih jauh, dia akan mendapati bahwa masalah yang tampak di permukaan tidak sesederhana tulisannya. Sebagai contoh, email menyebar bukan karena bocor. Kalau memang cerita cinta Boy dan Ririen dimaksudkan sebagai manifestasi cerita tentang saya dan sahabat saya, suami sahabat saya itulah yang sengaja menyebarkan ke email semua orang di kantor. Alasan penyebaran email itu juga bukan semata-mata meminta kantor untuk memberikan sanksi.

Sebagai latar belakang, sahabat saya itu telah menikah belasan tahun dengan seorang perwira menengah militer. Selama pernikahannya, sahabat saya tertekan dalam satu sistem patriaki yang biasa diterapkan oleh kalangan militer. Dalam pandangan sang suami, seorang istri harus menuruti semua kemauan suami sonder reserve. Selama bertahun-tahun sahabat saya mengalami kekerasan dan tekanan dalam semua hal: mulai fisik, psikologis, hingga ekonomi.

Saat sahabat saya mencoba melakukan koreksi, hal yang sama selalu dilakukan oleh sang suami: menuduh si istri berselingkuh dan mengacak-acak kantor serta orang-orang terdekatnya. Ini bukan pertama kali dilakukan oleh sang suami. Berulang kali terjadi selama bertahun-tahun.

Kalau selama bertahun-tahun sahabat saya memilih diam, kali ini dia memilih melawan dan mengajukan gugatan cerai. Apa yang kemudian terjadi? Si suami dengan pengecut mengambil dua orang anaknya dan membawanya kabur ke Surabaya. Pun ketika Pengadilan Agama Jakarta Selatan sudah mengabulkan tuntutan cerai dan memberikan hak asuh anak pada sabahat saya, si suami bergeming. Dia memilih mengajukan banding dan menolak mempertemukan anak-anaknya dengan seorang ibu yang sudah susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan mereka. Sebagai “bonus” ya itu, sang suami mengirimkan email ke semua orang untuk menjatuhkan martabat istrinya.

Soal tuduhan perselingkuhan – atau “affair” dalam istilah penulis – pengadilan agama sudah membuktikan sebaliknya. Saya sendiri tidak pernah peduli dengan gosip yang beredar di seputaran kantor. Buat saya, membantu siapapun melawan penindasan adalah suatu kewajiban.

Oke, anggaplah tulisan di majalah fm itu sama sekali tidak bermaksud menceritakan gosip tentang saya dan sahabat saya. Tapi saya ingin menyoroti tentang perselingkuhan yang terjadi karena Ririen mengalami Kekerasan Dalam Rumah tangga (KDRT).

Tulisan ini seolah-olah mendudukkan sang suami yang sebelumnya melakukan KDRT dalam posisi yang benar. Padahal sejak Undang-Undang Penghapusan KDRT diberlakukan pada 22 September 2004, KDRT seharusnya dianggap sebagai tindakan pidana dan bukan sekedar masalah rumah tangga belaka. Semua harus berjuang menghapuskannya. Sama seperti kita melawan tindakan korupsi, premanisme, pencurian atau pembunuhan. Saya, sahabat saya, Anda semua! Semua orang di republik ini mempunyai kewajiban itu!

Kemudian di penghujung artikel penulis mengutip konsultan ahli yang menyarankan agar perusahaan mencantumkan pasal anti perselingkuhan dalam perjanjian kerja. Ini jelas pasal karet yang tidak profesional, menganggu hak-hak pekerja dan bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Apa yang nantinya akan digunakan sebagai patokan? Mengobrol berdua disebut selingkuh? Makan siang berdua disebut selingkuh? Mendiskusikan terjemahan disebut selingkuh? Atau apa?

Ini sama sumirnya dengan UU Anti-Pornografi atau Perda-perda absurd yang mengaku berdasarkan agama di beberapa daerah. Mengapa tidak sekalian mengusulkan untuk membuat peraturan kalau karyawan harus membentuk keluarga sakinah ma waddah wa rahmah, melarang karyawan minum minuman keras dan mewajibkan seluruh karyawan berpuasa di bulan Ramadan dan salat lima waktu sehari? Please, deh.

Ketika majalah fm berulang tahun ke-35, saya terkesan dengan pernyataan seorang ibu yang sangat saya hormati, yang menyebutkan kalau majalah ini akan selalu menjadi sahabat wanita Indonesia dalam memberdayakan diri. Tapi artikel ini menyentakkan saya ke dalam kenyataan pahit. Majalah wanita terbesar di republik ini ternyata tetap mengkampanyekan konservatisme, mendukung patriaki dan tidak memberdayakan perempuan untuk melawan penindasan.

Saya tidak marah pada artikel ini, penulis maupun editornya. Namun saya merasa sangat sedih tulisan sampah semacam ini bisa menjadi artikel di sebuah majalah yang sudah saya baca sejak mulai bisa membaca. Ibu saya merupakan pelanggan setia majalah ini sampai dia berhenti karena merasa majalah ini sudah “terlalu muda” untuknya.

Teruslah berjuang untuk memberdayakan perempuan di republik ini, sahabat. Jangan merendahkan diri menjadi sekelas tabloid gosip murahan. Saya tahu pasti, kalian jauh lebih baik dari itu.