Gerbong Nomor Tiga

Gerbongku berada nomor empat dari belakang. Entah mengapa disebut gerbong bisnis nomor tiga. Kata seorang pria yang duduk di sampingku, gerbong paling belakang memang bukan gerbong penumpang.

Entahlah. Aku tadi tak memperhatikan gerbong apa yang ada di rangkaian terakhir kereta ini. Begitu kereta masuk di Stasiun Purwokerto, aku bergegas mencari gerbongku dan menyamankan pantat di bangku 14 D. Persisnya tak lama setelah mengusir dengan halus orang yang menduduki bangkuku itu dan memutar sandarannya ke arah depan. Baca lebih lanjut

Mengapa Saya Menolak Timur Pradopo?

Pada 19 Oktober 2010, DPR akhirnya menyetujui pencalonan Komisaris Jenderal Timur Pradopo sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Beritanya terpinggirkan, atau memang sengaja dipinggirkan, oleh hiruk-pikuk pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional dan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono.

Tulisan ini sebenarnya ingin saya buat pekan silam, usai Timur menjalani fit and proper test di DPR. Namun baru sekarang saya bisa menulisnya. Better late than never, kata orang Inggris. Jadi, sementara orang lain sudah pindah ke isu satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, perkenankan saya masih berkutat pada soal usang ini. Baca lebih lanjut

Perbincangan Saat Kuis

Hari ini, saya mengadakan kuis untuk mata kuliah Jurnalisme Online di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. Dalam kuis yang diikuti 10 dari 26 orang mahasiswa ini, terlontar beberapa perbincangan yang sempat saya tulis sebagai posting twitter dan sekarang saya salin di sini:

“Ya, halo.. Cepetan, lagi kuis”

“Pak, jawabannya boleh ngacak, ya?”
“Boleh. Yang nggak boleh kalau jawabannya salah”. Baca lebih lanjut

Siang di Perempatan Lebak Bulus

Minggu siang, di perempatan Lebak Bulus
Saat matahari sengat kepala

Dua gadis kecil naik ke atas Kopaja
Menengadahkan tangan, harapkan belas kasihan seadanya

Selembar uang ribuan diterima dengan suka cita

Pattimura digabungkan dengan recehan dalam botol akua
Kemudian dibagi dua

Kerjasama sederhana
Dua insan muda belia
Yang seharusnya sedang bergembira
Di tengah sanak saudara

Bukan koalisi berbagi kuasa
Untuk jarah uang rakyat, esok lusa

Sehari Usai Pemilu

Gadis cilik ditemani wanita setengah baya
naik ke dalam bus

Pukul setengah sepuluh malam
Sehari usai Pemilu Parlemen 2009

Bus berjalan perlahan, tinggalkan belahan barat ibukota
Wanita setengah baya memutar kaset disko dangdut
Bersaing dengan gemuruh mesin dan roda menggilas jalan tol

Gadis kecilpun bernyanyi
Mencoba kalahkan deru bus dan dentum musik

Ini bukan kicauan calon anggota dewan
Yang berbulan-bulan jual tampang
Menyesaki ruang publik dengan ribuan bualan

Gadis cilik bermata letih bermuka enggan
Seharusnya sudah lelap di peraduan

Larut malam masih kumpulkan recehan
Di negeri yang baru saja buang duit triliunan
Agar ratusan orang bisa ngantor di Senayan

Sang gadispun berhenti benyanyi
Tertidur di bangku kosong
Coba puaskan kantuk yang menyerang

Ini bukan panggung politik negeri
tempat ratusan ribu cangkem baru saja berhenti umbar janji
Dan segera diganti babak baru panggung komedi

Tidak ada ratusan ribu simpatisan
Yang menunggu uang bayaran

Hanya puluhan tubuh tergeletak lelah
Di atas bus bertarif dua ribu lima ratus rupiah

Jangan Berubah Menjadi Tabloid Gosip, Sahabat!

Fm MagazineDi pekan kedua awal tahun ini, sebuah majalah wanita terbitan kelompok media kantor saya dulu menurunkan satu tulisan utama berjudul “Office Affair”.

Istilah “affair” di sini bukan terjemahan dari “urusan” seperti dalam “internal affair” atau “foreign affair”. Jadi, “office affair” bukanlah bagian atau orang yang bertugas mengurusi kantor. “Affair” di sini dimaksudkan sebagai sinonim “perselingkuhan”. Generasi di atas saya menyebutnya sebagai “main gila”. Jadi artikel di majalah itu – katakanlah bernama majalah “fm” – berniat menyampaikan tema “perselingkuhan antar-karyawan di dalam kantor”.

Satu hal yang mengejutkan saya, artikel ini dibuka dengan cerita perselingkuhan antara Boy dan Ririen di PT. Semesta Harapan. Disebutkan dalam artikel itu, perselingkuhan mereka menjadi buah bibir seluruh kantor karena suami Ririen mengirimkan email ke HRD dan bocor ke seluruh karyawan. Hmm.. Mau tidak mau, saya langsung menerjemahkan cerita ini sebagai saduran gosip yang menerpa saya dan sahabat dekat saya satu tahun terakhir sebelum saya mengundurkan diri dari kantor itu. :(

Bagaimanapun, terima kasih sudah memilih nama “Boy”, bukan “Sarimin” atau “Suharto”. Bukankah Boy dikenal “baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar”? :)

Namun saya tetap heran melihat majalah wanita sekelas fm menggunakan gosip murahan sebagai bahan artikel utamanya. Tentu saja dengan mengubah nama dan perusahaan, saya tidak mungkin menyampaikan keluhan atau hak jawab. Okelah, kalian membuat tulisan yang aman secara jurnalistik. Tapi dengan memasukkan “sampah” ke dalam tulisan, artikel utama tersebut otomatis menjadi artikel sampah. Sayang, bukan?

Saya dengan sangat terpaksa harus mengambil kesimpulan bahwa penulis artikel ini tidak sanggup melihat satu peristiwa secara utuh. Dia hanya mendengar gosip di seputaran kantor, kemudian sejenak melakukan “wawancara dengan langit-langit” dan terinspirasi membuat tulisan. Tipikal wartawan yang datang ke jumpa pers, menikmati hidangan dan kemudian membuat tulisan berdasarkan siaran pers. Mudah-mudahan ini disebabkan deadline yang ketat, bukan karena kualitas si penulis.

Kalau penulis mau sedikit menggali lebih jauh, dia akan mendapati bahwa masalah yang tampak di permukaan tidak sesederhana tulisannya. Sebagai contoh, email menyebar bukan karena bocor. Kalau memang cerita cinta Boy dan Ririen dimaksudkan sebagai manifestasi cerita tentang saya dan sahabat saya, suami sahabat saya itulah yang sengaja menyebarkan ke email semua orang di kantor. Alasan penyebaran email itu juga bukan semata-mata meminta kantor untuk memberikan sanksi.

Sebagai latar belakang, sahabat saya itu telah menikah belasan tahun dengan seorang perwira menengah militer. Selama pernikahannya, sahabat saya tertekan dalam satu sistem patriaki yang biasa diterapkan oleh kalangan militer. Dalam pandangan sang suami, seorang istri harus menuruti semua kemauan suami sonder reserve. Selama bertahun-tahun sahabat saya mengalami kekerasan dan tekanan dalam semua hal: mulai fisik, psikologis, hingga ekonomi.

Saat sahabat saya mencoba melakukan koreksi, hal yang sama selalu dilakukan oleh sang suami: menuduh si istri berselingkuh dan mengacak-acak kantor serta orang-orang terdekatnya. Ini bukan pertama kali dilakukan oleh sang suami. Berulang kali terjadi selama bertahun-tahun.

Kalau selama bertahun-tahun sahabat saya memilih diam, kali ini dia memilih melawan dan mengajukan gugatan cerai. Apa yang kemudian terjadi? Si suami dengan pengecut mengambil dua orang anaknya dan membawanya kabur ke Surabaya. Pun ketika Pengadilan Agama Jakarta Selatan sudah mengabulkan tuntutan cerai dan memberikan hak asuh anak pada sabahat saya, si suami bergeming. Dia memilih mengajukan banding dan menolak mempertemukan anak-anaknya dengan seorang ibu yang sudah susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan mereka. Sebagai “bonus” ya itu, sang suami mengirimkan email ke semua orang untuk menjatuhkan martabat istrinya.

Soal tuduhan perselingkuhan – atau “affair” dalam istilah penulis – pengadilan agama sudah membuktikan sebaliknya. Saya sendiri tidak pernah peduli dengan gosip yang beredar di seputaran kantor. Buat saya, membantu siapapun melawan penindasan adalah suatu kewajiban.

Oke, anggaplah tulisan di majalah fm itu sama sekali tidak bermaksud menceritakan gosip tentang saya dan sahabat saya. Tapi saya ingin menyoroti tentang perselingkuhan yang terjadi karena Ririen mengalami Kekerasan Dalam Rumah tangga (KDRT).

Tulisan ini seolah-olah mendudukkan sang suami yang sebelumnya melakukan KDRT dalam posisi yang benar. Padahal sejak Undang-Undang Penghapusan KDRT diberlakukan pada 22 September 2004, KDRT seharusnya dianggap sebagai tindakan pidana dan bukan sekedar masalah rumah tangga belaka. Semua harus berjuang menghapuskannya. Sama seperti kita melawan tindakan korupsi, premanisme, pencurian atau pembunuhan. Saya, sahabat saya, Anda semua! Semua orang di republik ini mempunyai kewajiban itu!

Kemudian di penghujung artikel penulis mengutip konsultan ahli yang menyarankan agar perusahaan mencantumkan pasal anti perselingkuhan dalam perjanjian kerja. Ini jelas pasal karet yang tidak profesional, menganggu hak-hak pekerja dan bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Apa yang nantinya akan digunakan sebagai patokan? Mengobrol berdua disebut selingkuh? Makan siang berdua disebut selingkuh? Mendiskusikan terjemahan disebut selingkuh? Atau apa?

Ini sama sumirnya dengan UU Anti-Pornografi atau Perda-perda absurd yang mengaku berdasarkan agama di beberapa daerah. Mengapa tidak sekalian mengusulkan untuk membuat peraturan kalau karyawan harus membentuk keluarga sakinah ma waddah wa rahmah, melarang karyawan minum minuman keras dan mewajibkan seluruh karyawan berpuasa di bulan Ramadan dan salat lima waktu sehari? Please, deh.

Ketika majalah fm berulang tahun ke-35, saya terkesan dengan pernyataan seorang ibu yang sangat saya hormati, yang menyebutkan kalau majalah ini akan selalu menjadi sahabat wanita Indonesia dalam memberdayakan diri. Tapi artikel ini menyentakkan saya ke dalam kenyataan pahit. Majalah wanita terbesar di republik ini ternyata tetap mengkampanyekan konservatisme, mendukung patriaki dan tidak memberdayakan perempuan untuk melawan penindasan.

Saya tidak marah pada artikel ini, penulis maupun editornya. Namun saya merasa sangat sedih tulisan sampah semacam ini bisa menjadi artikel di sebuah majalah yang sudah saya baca sejak mulai bisa membaca. Ibu saya merupakan pelanggan setia majalah ini sampai dia berhenti karena merasa majalah ini sudah “terlalu muda” untuknya.

Teruslah berjuang untuk memberdayakan perempuan di republik ini, sahabat. Jangan merendahkan diri menjadi sekelas tabloid gosip murahan. Saya tahu pasti, kalian jauh lebih baik dari itu.

Titanic Bagian Kedua

Minggu sore ini, saya menonton “Titanic” di satu kanal televisi berbayar yang khusus menyajikan tayangan film. Ingatan kembali menerawang ke sekitar dua belas tahun silam, saat film yang dibintangi Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet ini mewabah di seantero Bumi.

Saat itu saya terpaksa menonton di baris paling depan dan mendapat tempat paling pojok sebelah kiri. Padahal hampir semua studio sudah digunakan untuk memutar film itu. Setelah tiga jam 15 menit menonton di posisi itu, saya selama beberapa waktu menderita kaku di bagian leher kanan. Padahal saya masih berusia 22 tahun saat itu. Sulit menjumpai film selaris itu, termasuk “Twilight” yang pertama kali harus saya tonton di baris ketiga dari depan.

Lagu “My Heart Will Go On” yang dinyanyikan oleh Celine Dion juga sempat mewabah di mana-mana. Yang selalu saya ingat adalah saat makan es krim berdua dengan sahabat saya di Haagen Dazs Plasa Senayan. Entah mengapa saat itu mereka memutar lagu yang sama berulang-ulang tanpa jeda lagu lain. Waktu itu, ya dinikmati saja. Lagunya sedang ngetop dan es krimnya belum semahal sekarang karena satu dolar masih sekitar Rp 2.400,-. Minggu lalu saya kembali makan di sana dengan sahabat yang sama dan harganya sudah naik lima kali lipatnya.

Tak lama setelah film ini di putar, ekonomi Indonesia ikut terkena demam Titanic. Ekonomi yang saat itu menjadi andalan Orde Baru, ternyata rapuh dan tak kuat menahan tabrakan dengan gunung es krisis moneter.

Tapi saya sedang tidak berminat membahas sejarah Indonesia 1997-1999 yang sekarang banyak ditulis seenak udelnya tanpa melihat fakta. Bayangkan, di salah satu buku saya menemukan tulisan tentang Resimen Mahasiswa (Menwa) yang menjaga kampus Universitas Trisakti saat peristiwa Mei 1998. Padahal saat itu Menwa sudah jadi musuh mahasiswa di kampus kami dan selama beberapa tahun sebelumnya cuma jadi bulan-bulanan anak Teknik Mesin. Yang menjaga kampus kami saat itu adalah Satuan Tugas (Satgas) mahasiswa yang terdiri dari gabungan berapa himpunan mahasiswa jurusan dan senat fakultas. Menwa? Cuih!

Sudahlah. Saya sedang ingin menulis tentang soal lain.

Sahabat yang dua kali makan di Haagen Dazs bersama saya itu punya satu teori yang menarik tentang hubungan asmara antara Jack Dawson dengan Rose DeWitt. Tidak bisa dipungkiri, dalam film itu hubungan asmara antara Jack dan Rose terasa sangat romantis. Ciuman mesra di ujung haluan kapal, ditambah erotisme saat Jack melukis Rose tanpa busana dan bercinta di dalam mobil. Hmm.. Kita belum pernah mencoba ciuman di ujung haluan kapal, cin. :)

Namun, menurut sahabat saya tadi, hubungan Jack dan Rose tidak akan tetap seromantis itu itu jika kapal Titanic tidak tenggelam. Mereka akan tiba di Amerika Serikat dan dan menikah. Kemudian apa? Kalau menurut istilah Direktur Marketing kantor lama saya, “Teruusss?

Dalam teori sahabat saya, mereka akan menyadari kalau hidup sebenarnya tidaklah seindah itu. Akan ada masalah-masalah baru, terutama karena Jack dan Rose berasal dari kelas sosial yang sangat berbeda. Sekian tahun lalu, saya hanya bisa tersenyum mendengar teori sahabat saya itu. Namun sekarang saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Ketika seseorang tengah dimabuk cinta, hubungan asmara tak ubahnya hubungan antara Jack dan Rose dalam film “Titanic” tadi. Perbedaan kelas sosial dan budaya, misalnya, tidak akan menjadi masalah besar. Sebagai seorang yang sejak kecil dididik menjadi nasionalis dan setelah beranjak dewasa mengakui kebenaran analisa Marx tentang kapitalisme, saya yang pertama kali mencibir kalau masalah perbedaan kelas sosial, suku bangsa, budaya – bahkan agama sekalipun – bisa memisahkan hubungan cinta antara dua anak manusia.

Namun pengalaman sekian tahun setelah film Titanic tadi – baik dari pengalaman sekian banyak teman saya maupun pengalaman saya sendiri – membuat saya berpikir agak berbeda. Apalagi ketika seorang konsultan perkawinan berkata pada saya, “Perbedaan sosial dan budaya kalian terlalu besar”. Hmm.. Ada hal-hal lain yang perlu dipikirkan ketimbang kemesraan dan keintiman yang menggebu-gebu di awal percintaan.

Untuk mempertahankan cinta diperlukan persamaan-persamaan tertentu. Setidaknya persamaan tujuan dan pandangan hidup. Kelas sosial, misalnya, sebetulnya bisa saja dijembatani oleh pasangan yang memiliki tujuan dan pandangan hidup yang serupa. Namun jika kelas sosial mengakibatkan terbentuknya tujuan dan pandangan hidup yang berbeda, niscaya perbedaan di antara dua anak manusia itu akan sulit dijembatani.

Persamaan-persamaan lainnya juga dibutuhkan oleh suatu pasangan. Sahabat tercinta saya yang sedang menulis artikel sebagai kontibutor di salah satu majalah kebugaran wanita, menyebutkan ada beberapa jenis keintiman: fisik, estetik, rekreasional, intelektual, emosional, spiritual hingga seksual. Saya percaya, semakin banyak kesamaan, akan semakin banyak keintiman yang tercipta di antara pasangan tersebut.

Kembali ke kemungkinan Jack dan Roses tiba di Amerika – katakanlah karena gunung es di Atlantik Utara sudah meleleh seabad silam akibat pemanasan global yang terlalu dini – dan menikah. Mungkinkah mereka menjembatani segala perbedaan yang ada di antara mereka? Akankah Jack dan Rose tetap saling menyayangi sampai “kaken-ninen“. Ataukah Jack dan Rose akan menemukan wanita dan pria lain yang lebih memiliki banyak kesamaan? Akankah Rose memaki-maki Jack atau Jack melakukan KDRT terhadap Rose yang dituduh berselingkuh?

Entahlah. Toh James Cameron juga tidak akan memaksa membuat sekuel Titanic 2 . Jadi kita nikmati saja film ini dan tersenyum sambil berpikir, “Cinta memang indah”.

Lagipula memang indah, kok. Kata siapa, tidak indah?

Peradaban dan Kemanusiaan

Australia“Dia cucuku dan anakmu!” King George menyeru dengan marah bercampur sedih usai menombak mati Neil Fletcher yang akan menembak Nullah, anaknya sendiri.

Itulah adegan yang paling berkesan buat saya di film “Australia” yang saya tonton di penghujung tahun lalu.

Secara umum, film “Australia” tergolong menarik dan layak masuk ke jajaran box office. Namun ramuan Hollywood masih terasa sangat kental di situ: pihak yang baik menang, yang jahat mendapatkan ganjarannya dan cerita berakhir dengan happily ever after. Saat sahabat tercinta saya bertanya tentang inti cerita ini, saya cuma menjawab enteng, “Cerita kalau negara tetangga kita itu sangat rasis”.

Tentu saja, saya sangat menikmati film yang memang cocok buat ditonton berdua itu. Ada romantisme antara Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman) dan Drover (Hugh Jackman), diramu dengan latar belakang politik rasialis Australia yang langgeng hingga awal abad ke-21, ditambah ketegangan seputar Perang Dunia II di Pasifik. Tiga hal yang sangat saya gemari masuk di film ini: romantisme (dan erotisme), perlawanan pada penindasan serta Perang Dunia II, yang menurut saya merupakan perang terakhir yang “adil” dan berimbang di dunia ini.

Namun saya lebih terpesona dengan hubungan antara King George, seorang pejuang tua Aborijin, dengan Nullah, sang cucu. Berbeda dengan kakek dan ibunya, Nullah memiliki kulit coklat muda – seperti Indo di negara kita – dan masuk ke kelompok yang kerap diejek dengan sebutan “creamy”.

Berbeda dengan kelompok Indo yang semasa penjajahan relatif berbahagia dengan hak lebih di atas pribumi, kaum creamy justru harus menanggung sengsara karena dipisahkan dari ibunya yang Aborijin dan tidak diakui oleh bapaknya yang kulit putih. Nullah adalah salah satunya. Ibunya yang bekerja di peternakan Faraway Downs bertahun-tahun dimanfaatkan oleh Fletcher untuk memenuhi kebutuhan seksualnya – atau dalam istilah Nullah melakukan “wrong-sided business”. Lahirlah Nullah yang berdarah setengah Aborijin – setengah kulit putih. Namun Fletcher tidak pernah mengakuinya.

Di sisi lain, King George, yang tidak suka dengan tabiat kaum kulit putih, justru sangat menyayangi sang cucu. Dia mengajarkan semua ilmu dan adat istiadat Aborijin kepada Nullah.

Meski tidak menyukai tabiat Fletcher dan tindakannya terhadap putrinya – yang akhirnya tewas terbenam di menara air saat menyembunyikan Nullah dari kejaran polisi – King George tidak pernah berusaha mencelakai Fletcher – ayah cucunya. Namun ketika Fletcher hendak membunuh cucu kesayangannya, dia terpaksa turun tangan.

Saya teringat ibu sahabat saya yang saat itu tengah menjalani proses perceraian dengan sang suami. Dari awal, ibu sahabat saya tidak pernah menyukai menantunya itu. Namun dia tak kuasa untuk melarang anaknya. “Kalau saat itu disuruh memilih, pasti dia memilih suaminya,” ujarnya sedih di depan saya. Akhirnya dia hanya bisa menyaksikan saat sang anak diperlakukan semena-mena selama belasan tahun sebelum melakukan perlawanan dengan mengajukan gugatan cerai.

Rasa cinta orangtua terhadap anak, kakek dan nenek terhadap cucu, atau sebaliknya, konon merupakan bentuk langsung cinta Tuhan terhadap mahluk-Nya. Namun tak jarang rasa cinta semacam itu terdistorsi oleh aturan-aturan dan sekat-sekat sosial di tengah masyarakat.

King George, yang dianggap belum “beradab”, ternyata justru lebih manusiawi ketimbang Fletcher, kaum kulit putih yang membawa “peradaban” ke Australia. “Peradaban” yang justru memisahkan anak-anak dari orangtua yang dicintainya. Tentu saja “peradaban yang dingin” seperti itu bisa dijumpai di mana-mana. Saya jadi teringat Minke yang dipisahkan dengan kejam dari Annelies dalam “Bumi Manusia”.

Selama beberapa bulan ini, saya juga menyaksikan seorang ibu yang dipisahkan dari dua buah hatinya oleh suaminya sendiri. Ini dilakukan oleh seorang perwira menengah militer yang selalu mengaku menjaga kehormatan dan martabat keluarga. Atas nama kehormatan dan martabat itu pula, dia melarang seorang ibu yang susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, untuk meraih buah hatinya ke dalam dekapan.

Pun ketika Keputusan Pengadilan Agama menyatakan semua tuduhan sang suami tidak terbukti dan mengabulkan gugatan cerai serta hak asuh di tangan sang istri, sang mantan suami bergeming dan memilih mengajukan banding. Si ibu pun harus bersabar untuk kembali memberikan kehangatan pada kedua buah hatinya. Ini tentu saja bukan kasus yang unik. Terjadi di manapun, termasuk di kalangan selebritas yang terekam oleh tayangan infotainment yang tidak mendidik itu. Entah mengapa, konflik orangtua selalu membuat anak-anak sebagai korban.

Mungkin naif jika saya memandang hubungan cinta platonis antara orangtua dan anak bisa terlepas dari beragam tatanan sosial yang membebani kita setiap saat. Namun King George yang diperankan dengan sangat baik oleh aktor David Gulpilil setidaknya memberikan pelajaran kepada kita bahwa cinta semacam ini dimiliki oleh siapa saja, tanpa tergantung tingkat “peradaban” yang dimilikinya, dan orang-orang yang berusaha merenggutnya justru perlu dipertanyakan keberadabannya.

Kalau saja kita hidup di Negeri Hollywood.

Saya Terima Sipir Saya dengan Mas Kawin…

Ingatlah, istrimu adalah sipirmu. He.. he.. he..

Kalimat ini disampaikan oleh seorang teman di milis alumni SMA saya saat ada teman lain yang mengirimkan undangan pernikahan. Serta merta kalimat ini menuai badai komentar dari teman-teman lainnya.

Belasan komentar – yang semuanya disampaikan dengan lugas dalam Bahasa Jawa Banyumasan, “bahasa resmi” kota masa kecil kami – mempertanyakan hubungan si pemberi komentar dengan istrinya. Wongsaat itu dia juga belum terlalu lama menikah. Seingat saya, pengacara muda ini baru sekitar setahun menikah sebelum dia melontarkan pernyataan kontroversial itu.

Masih lekat dalam benak kami saat dia memperkenalkan calon istrinya pada sepuluh teman yang sedang cuwawakan dengan Bahasa Banyumas di Plasa Senayan. Mesra? Tentu saja. Mengikuti istilah Didit, anak saya, “Ya iya, lah. Masak ya iya dong. Duren aja dibelah”. Hmm.. Bagaimana caranya mengurangi kebiasaan anak saya itu menonton televisi, ya? :) Kembali ke teman saya tadi, saat itu saya yakin dia belum berpikir akan dijebloskan ke dalam “penjara” di bawah penjagaan “sipir” pilihannya sendiri.

Teman-teman yang sudah lebih lama menikah memberikan komentar beragam. Beberapa memberi semangat kepada teman yang akan menikah agar tidak terpengaruh komentar miring tadi. Tapi saya yakin, dalam hati beberapa teman berkata, “Rika jan-jane bener. Tapi aja keliwatan jujur enggane, lah”. Tidak perlu saya terjemahkan artinya, kan? Kalau betul-betul nggak tau, coba teriak, “Ada yang bisa Bahasa Banyumas di sini?” Saya yakin saudara-saudara saya yang mengerti akan dengan senang hati membantu Anda.

Seorang sahabat saya yang lain punya istilah berbeda untuk menyebut istrinya. Istilah ini tercipta saat dia sedang menelepon seorang teman baik yang kebetulan perempuan. Sebal dengan tatapan curiga istrinya, sahabat saya yang anak tentara dan selama menjadi aktivis mahasiswa 1998 gemar memantau radio komunikasi polisi, berucap, “Nanti telpon lagi, deh. Palembang Medan ada di pos”.

Palembang Medan adalah kode untuk PM alias Polisi Militer. Entah mengapa saudara-saudara kita yang suka mendekin rambut dan ngamukan itu gemar sekali menyingkat kata, kemudian memanjangkannya lagi dengan kode semacam ini. “300 Mahasiswa dengan 3 Metro Mini menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat”, misalnya, akan menjadi “300 Medan Halong Solo dengan 3 Medan Medan menuju Demak Palembang Rembang”. Nggak usah tanya, bagaimana 300 mahasiswa bisa muat di 3 bus ukuran Metro Mini. Ini logika 1998 yang tidak akan masuk akal untuk satu dasawarsa sesudahnya. :D Singkat kata, sahabat saya ini kemudian menyebut istrinya dengan sebutan PM. Delapan enam. ;)

Fenomena semacam ini tak jarang kita temukan pada pasangan yang sudah menikah cukup lama. Kalau teman-teman saya yang laki-laki menyebut istrinya “sipir” atau “PM”, ada teman-teman perempuan saya yang juga menyebut suaminya, “bapak kost”, “polisi” atau “provost” – yang terakhir ini sejenis dengan Palembang Medan tadi.

Intinya sebetulnya sama. Semua merasa kebebasannya terkekang oleh sebuah lembaga bernama pernikahan. Pernikahan loh, ya. Bukan perkawinan. Menurut guru biologi SMP saya dulu, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Yang sedang saya bahas sekarang pernikahan, bukan perkawinan. Jadi teman-teman yang tergabung dalam ASI mohon jangan berkomentar. :D

Ungkapan rasa sebal karena terkekang bisa muncul dalam bentuk yang berbeda. Suatu malam, menjelang pukul 22.30, saya mengantar seorang sahabat ke mobilnya yang diparkir di ujung lintasan Busway. Ketika hampir sampai, istrinya menelepon. Ungkapan pertama yang terlontar dari mulutnya adalah, “cerewet!” Namun setelah itu, dia masih menerima telepon itu dengan nada mesra. Usai menelepon dia menatap saya dengan bingung, “Cari Rumah Makan Padang yang masih buka jam segini di mana, ya?”

Teman saya yang lain punya sikap yang berbeda. Saat istrinya menelepon, dia akan berkata, “Bawel, ah!” Bedanya, dia tidak kemudian mengangkat telepon dan kebingungan mencari Rumah Makan Padang. “Kalau penting paling nanti SMS,” ujarnya kalem sembari menikmati nada dering ponsel yang melantunkan suara merdu Mariah Carey.

Seorang sahabat saya yang baru saja menjalani perceraian, beberapa kali mempertanyakan, mengapa pernikahan yang semestinya diawali dengan cinta dan harapan bisa berubah menjadi seperti itu. Bahkan dalam beberapa kasus rasa saling menyayangi bisa berbalik 180 derajat menjadi saling membenci.

Entah bagaimana saya harus menjawab pertanyaan itu. Yang jelas, perubahan tidak terjadi seperti membalik telapak tangan. “Belahan jiwa” tidak berubah menjadi “sipir” dalam semalam. “Cintaku” tidak berubah menjadi “provost” seiring cuaca berubah dari terang menjadi hujan. “Halo, sayang..” tidak mendadak menjadi, “Apaan sih, telpon-telpon terus!”

Mungkin karena berjalan sangat perlahan, perubahan seringkali tidak kita sadari. Sampai suatu ketika satu kalimat yang dulu diucapkan dengan tegas dan dua potong buku tipis tak lagi mampu memberikan keteduhan dan kenyamanan. Pernikahan berubah menjadi penjara dan belahan jiwa menjadi sipirnya.

“Saya terima sipir saya dengan mas kawin tersebut di atas. Tunai!!!”