Berbohong tentang Subsidi

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah berteriak-teriak tentang penggunaan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melonjak empat kali lipat dibandingkan angka tahun lalu. Karena itu, pemerintah akan berusaha mengurangi penggunaan “BBM bersubsidi”. Artinya, masyarakat tidak bisa seenaknya lagi membeli Premium dan Solar yang sebetulnya juga sudah tidak murah lagi.

Media massa kemudian memperkuat teriakan-teriakan ini. Selama beberapa waktu, pemberitaan dan wacana pembatasan penggunaan “BBM bersubsidi” memenuhi media cetak, online, dan elektronik.

Namun, benarkah BBM saat ini masih disubsidi? Selama bertahun-tahun, ekonom senior, Doktor Kwik Kian Gie, mati-matian berusaha menjelaskan bahwa paradigma subsidi yang digunakan pemerintah saat ini terlalu berdasarkan pemikiran pasar bebas. Dalam pola pikir pemerintah sekarang, Premium dan Solar adalah “BBM bersubsidi” karena dijual di bawah harga pasar dunia. Baca lebih lanjut

Citra Tertindas Calon Presiden

Dalam usia demokrasinya yang masih muda, Indonesia telah menciptakan sejumlah perubahan signifikan. Tiga belas tahun silam mungkin tidak pernah terbayangkan rakyat Indonesia dapat memilih presidennya secara langsung. Semasa Orde Baru berkuasa, dalam Pemilu rakyat hanya diperbolehkan memilih tiga gambar yang menyimbolkan dua partai politik dan satu golongan karya. Prosentase hasil pilihan itu akan mendudukkan 400 orang di kursi parlemen. Rakyat tidak tahu siapa yang akan didudukkan di 400 kursi itu. Kemudian, presiden berkuasa akan menunjuk 100 orang untuk mewakili militer dan kepolisian. 500 orang inilah yang disebut sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Kemudian presiden berkuasa akan menunjuk lagi 500 orang sebagai wakil utusan golongan dan utusan daerah. Ditambah dengan 500 orang anggota DPR tadi, mereka disebut sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Seribu orang anggota MPR inilah yang kemudian berhak memilih presiden untuk masa jabatan selanjutnya.

Enam puluh persen anggota MPR ditunjuk oleh presiden yang berkuasa. Hanya 40 persen sisanya yang dipilih melalui Pemilu. Itupun bukan pemilu yang jujur dan adil. Jadi maklum saja kalau seorang presiden bisa terus-menerus terpilih kembali sampai tujuh kali. Baca lebih lanjut

Perbincangan Saat Kuis

Hari ini, saya mengadakan kuis untuk mata kuliah Jurnalisme Online di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. Dalam kuis yang diikuti 10 dari 26 orang mahasiswa ini, terlontar beberapa perbincangan yang sempat saya tulis sebagai posting twitter dan sekarang saya salin di sini:

“Ya, halo.. Cepetan, lagi kuis”

“Pak, jawabannya boleh ngacak, ya?”
“Boleh. Yang nggak boleh kalau jawabannya salah”. Baca lebih lanjut

Membaca detikcom di Kamar Mandi

detikcomdetikcom tidak bisa dibaca di kamar mandi”.

Itulah jawaban yang selalu dilontarkan oleh Pemimpin Redaksi detikcom, Budiono Darsono, sekitar sembilan-sepuluh tahun silam, jika ada yang bertanya apa kelemahan media yang dipimpinnya dibandingkan dengan media cetak seperti Kompas.

Saat itu detikcom baru saja naik daun. Budiono pun sibuk didhapuk menjadi pembicara di berbagai kesempatan untuk menjelaskan keunggulan media online itu. Puluhan hingga ratusan peserta seminar selalu tersihir oleh kemampuan bicara wartawan yang dicekal oleh Harmoko selama Orde Baru itu. Hampir selalu terjadi, di akhir acara ada pertanyaan semacam ini: “Apakah detikcom akan mengalahkan media cetak? Apa yang membuat koran-koran bisa bertahan melawan detikcom?”

Dan itulah jawaban seorang Budiono. Jawaban yang sebenarnya sombong, tapi selalu dapat ditampilkan secara humble dan elegan. Bagaimana tidak sombong, jawaban itu sebenarnya sama saja menyatakan satu-satunya kelemahan media yang dipimpinnya adalah keterbatasan teknologi Internet saat itu, yang hanya bisa diakses melalui komputer berukuran besar.

Tapi itulah Budiono. Saya tidak akan pernah lupa ekspresinya setiap kali menasihati, “Git, kalau kamu selingkuh jangan pernah ngaku. Kalau ketangkep basah, bilang aja:wong kita lagi main dokter-dokteran, kok”. Ucapan ini selalu ditampilkan dengan nada kalimat dan ekspresi muka jenaka yang kadang membuat kita tak sadar, kalau ucapan itu sebetulnya sangat kurang ajar.

Ekspresi khasnya juga bisa dijumpai saat menjelaskan bahwa ejaan yang benar adalah “mengubah”, bukan “merubah”. “Yen ‘rubah’ kuwi kewan,” sambil tangannya menirukan sikap rubah yang mau menerkam mangsanya. Ya itulah Budiono, yang selalu membuat saya dan sahabat saya, Iwan “Najis” Triono, sering berucap, “Kita kan sama-sama Budionois”.

Kembali ke soal kamar mandi, perkembangan teknologi informasi sekarang membuat jawaban di awal tulisan ini tidak lagi valid. Jadi saya yakin, Budiono pun tidak akan memakai jawaban itu lagi.

Meskipun masih lebih suka membawa “Kompas” untuk menemani “ritual pagi”, saya bisa dengan mudah membaca detikcom di kamar mandi menggunakan ponsel saya. Apalagi sudah berbulan-bulan saya membawa ponsel ke manapun, termasuk ke kamar mandi. Terakhir kali saya membiarkan ponsel tergeletak, terjadi keributan besar di rumah saya. Ya, mungkin saya harus lebih lama nyantrik pada seorang Budiono agar bisa meniru mimiknya saat mengucapkan, “wong kita lagi main dokter-dokteran, kok!”

Sejatinya sekian tahun lalu saya sudah mulai membaca detikcom di kamar mandi. Saat kemampuan mobile Internet belum sehebat sekarang, saya salah seorang pengakses setia WAP detik. Saya berhenti mengakses situs mobile berbasis teks itu saat akun milik teman saya ditutup. Ya, saya memilih mengaksesnya bukan karena alasan sentimentil, tapi karena mendapat akun gratis dari seorang teman yang saat itu juga keluar dari detikcom dan bergabung dengan tim majalah saya. Buat saya, berita Internet seharusnya bisa diakses gratis. Sayangnya, pada situs-situs WAP lain yang gratis, beritanya tidak berkualitas.

Ketika akses mobile Internet menjadi semakin baik, di awal-awal maraknya UMTS dan HSDPA, saya lebih suka membuka detikcom menggunakan laptop. Tentu saja kebiasaan ini membuat saya enggan membawanya ke kamar mandi. Selain sedang tidak mampu membeli yang baru jika perangkat ini tersiram air, panas yang dihasilkannya sangat mengganggu untuk diletakkan di atas pangkuan. Jangankan saat tidak mengenakan celana, dengan celana jeans pun panasnya membuat salah satu organ tubuh saya menjadi tidak nyaman.

Saya pertama kali aktif kembali menggunakan mobile Internet untuk mengakses Facebook. Aplikasi ini sangat menghibur saat harus menunggu dan sedang berada di atas angkot, bus kota atau KRL Jabotabek. Yang menyenangkan, tidak seperti beberapa tahun lalu, masyarakat sekarang sudah terbiasa menggunakan ponsel di kendaraan umum. Jadi bermain-main Facebook dengan ponsel di atas angkot, Kopaja atau Metro Mini tidak akan menarik perhatian orang seperti – katakanlah – di awal abad ini.

Saya bahkan menjumpai beberapa orang yang sudah nyaman membuka laptop di atas bus kota yang kosong atau di atas KRL. Kalau kemampuan baterai laptop saya masih sama seperti saat dibeli, mungkin saya juga akan melakukannya – setelah membeli bantal tipis agar radiasi panasnya tidak mengalir menembus celana. Baru punya anak satu, je!

Saya mulai rutin lagi membaca detikcom di ponsel sejak berhasil menghidupkan kembali tombol delete. Salah satu efek samping terlalu sering membawa ponsel ke kamar mandi adalah rusaknya beberapa fungsi tombol di ponsel saya, termasuk back dan delete. Setelah saya utak-atik sedikit, akhirnya saya bisa menghapus default “www.” padabrowser dan mengetikkan “m.detik.com” di situ. Sejak itu, detikcom masuk di bookmark, menemani Facebook dan Yahoo! Messenger.

Berapakah jumlah penduduk Indonesia yang memiliki kebiasaan seperti saya? Yang jelas, jumlah pengguna ponsel di republik ini sudah berada di atas 130 juta. Pengguna ponsel 3G di kisaran 10 juta dan pada akhir tahun ini pengguna Blackberry diperkirakan akan mencapai 1 juta orang.

Kalau sejuta pengguna Blackberry ditambah 20 saja persen pengguna ponsel 3G mengakses detikcom di perangkat mobile-nya, artinya lebih banyak orang yang bisa membaca detikcom di kamar mandi daripada membaca Kompas (cetak).

Jadi, selamat membaca detikcom di kamar mandi. Saran saya, jauhkan ponsel Anda dari siraman air. Ponsel 3G Anda tidak seharga Rp 3.500,- yang bisa dibuang setiap saat jika kuyub tersiram air.

Jangan Berubah Menjadi Tabloid Gosip, Sahabat!

Fm MagazineDi pekan kedua awal tahun ini, sebuah majalah wanita terbitan kelompok media kantor saya dulu menurunkan satu tulisan utama berjudul “Office Affair”.

Istilah “affair” di sini bukan terjemahan dari “urusan” seperti dalam “internal affair” atau “foreign affair”. Jadi, “office affair” bukanlah bagian atau orang yang bertugas mengurusi kantor. “Affair” di sini dimaksudkan sebagai sinonim “perselingkuhan”. Generasi di atas saya menyebutnya sebagai “main gila”. Jadi artikel di majalah itu – katakanlah bernama majalah “fm” – berniat menyampaikan tema “perselingkuhan antar-karyawan di dalam kantor”.

Satu hal yang mengejutkan saya, artikel ini dibuka dengan cerita perselingkuhan antara Boy dan Ririen di PT. Semesta Harapan. Disebutkan dalam artikel itu, perselingkuhan mereka menjadi buah bibir seluruh kantor karena suami Ririen mengirimkan email ke HRD dan bocor ke seluruh karyawan. Hmm.. Mau tidak mau, saya langsung menerjemahkan cerita ini sebagai saduran gosip yang menerpa saya dan sahabat dekat saya satu tahun terakhir sebelum saya mengundurkan diri dari kantor itu. :(

Bagaimanapun, terima kasih sudah memilih nama “Boy”, bukan “Sarimin” atau “Suharto”. Bukankah Boy dikenal “baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar”? :)

Namun saya tetap heran melihat majalah wanita sekelas fm menggunakan gosip murahan sebagai bahan artikel utamanya. Tentu saja dengan mengubah nama dan perusahaan, saya tidak mungkin menyampaikan keluhan atau hak jawab. Okelah, kalian membuat tulisan yang aman secara jurnalistik. Tapi dengan memasukkan “sampah” ke dalam tulisan, artikel utama tersebut otomatis menjadi artikel sampah. Sayang, bukan?

Saya dengan sangat terpaksa harus mengambil kesimpulan bahwa penulis artikel ini tidak sanggup melihat satu peristiwa secara utuh. Dia hanya mendengar gosip di seputaran kantor, kemudian sejenak melakukan “wawancara dengan langit-langit” dan terinspirasi membuat tulisan. Tipikal wartawan yang datang ke jumpa pers, menikmati hidangan dan kemudian membuat tulisan berdasarkan siaran pers. Mudah-mudahan ini disebabkan deadline yang ketat, bukan karena kualitas si penulis.

Kalau penulis mau sedikit menggali lebih jauh, dia akan mendapati bahwa masalah yang tampak di permukaan tidak sesederhana tulisannya. Sebagai contoh, email menyebar bukan karena bocor. Kalau memang cerita cinta Boy dan Ririen dimaksudkan sebagai manifestasi cerita tentang saya dan sahabat saya, suami sahabat saya itulah yang sengaja menyebarkan ke email semua orang di kantor. Alasan penyebaran email itu juga bukan semata-mata meminta kantor untuk memberikan sanksi.

Sebagai latar belakang, sahabat saya itu telah menikah belasan tahun dengan seorang perwira menengah militer. Selama pernikahannya, sahabat saya tertekan dalam satu sistem patriaki yang biasa diterapkan oleh kalangan militer. Dalam pandangan sang suami, seorang istri harus menuruti semua kemauan suami sonder reserve. Selama bertahun-tahun sahabat saya mengalami kekerasan dan tekanan dalam semua hal: mulai fisik, psikologis, hingga ekonomi.

Saat sahabat saya mencoba melakukan koreksi, hal yang sama selalu dilakukan oleh sang suami: menuduh si istri berselingkuh dan mengacak-acak kantor serta orang-orang terdekatnya. Ini bukan pertama kali dilakukan oleh sang suami. Berulang kali terjadi selama bertahun-tahun.

Kalau selama bertahun-tahun sahabat saya memilih diam, kali ini dia memilih melawan dan mengajukan gugatan cerai. Apa yang kemudian terjadi? Si suami dengan pengecut mengambil dua orang anaknya dan membawanya kabur ke Surabaya. Pun ketika Pengadilan Agama Jakarta Selatan sudah mengabulkan tuntutan cerai dan memberikan hak asuh anak pada sabahat saya, si suami bergeming. Dia memilih mengajukan banding dan menolak mempertemukan anak-anaknya dengan seorang ibu yang sudah susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan mereka. Sebagai “bonus” ya itu, sang suami mengirimkan email ke semua orang untuk menjatuhkan martabat istrinya.

Soal tuduhan perselingkuhan – atau “affair” dalam istilah penulis – pengadilan agama sudah membuktikan sebaliknya. Saya sendiri tidak pernah peduli dengan gosip yang beredar di seputaran kantor. Buat saya, membantu siapapun melawan penindasan adalah suatu kewajiban.

Oke, anggaplah tulisan di majalah fm itu sama sekali tidak bermaksud menceritakan gosip tentang saya dan sahabat saya. Tapi saya ingin menyoroti tentang perselingkuhan yang terjadi karena Ririen mengalami Kekerasan Dalam Rumah tangga (KDRT).

Tulisan ini seolah-olah mendudukkan sang suami yang sebelumnya melakukan KDRT dalam posisi yang benar. Padahal sejak Undang-Undang Penghapusan KDRT diberlakukan pada 22 September 2004, KDRT seharusnya dianggap sebagai tindakan pidana dan bukan sekedar masalah rumah tangga belaka. Semua harus berjuang menghapuskannya. Sama seperti kita melawan tindakan korupsi, premanisme, pencurian atau pembunuhan. Saya, sahabat saya, Anda semua! Semua orang di republik ini mempunyai kewajiban itu!

Kemudian di penghujung artikel penulis mengutip konsultan ahli yang menyarankan agar perusahaan mencantumkan pasal anti perselingkuhan dalam perjanjian kerja. Ini jelas pasal karet yang tidak profesional, menganggu hak-hak pekerja dan bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Apa yang nantinya akan digunakan sebagai patokan? Mengobrol berdua disebut selingkuh? Makan siang berdua disebut selingkuh? Mendiskusikan terjemahan disebut selingkuh? Atau apa?

Ini sama sumirnya dengan UU Anti-Pornografi atau Perda-perda absurd yang mengaku berdasarkan agama di beberapa daerah. Mengapa tidak sekalian mengusulkan untuk membuat peraturan kalau karyawan harus membentuk keluarga sakinah ma waddah wa rahmah, melarang karyawan minum minuman keras dan mewajibkan seluruh karyawan berpuasa di bulan Ramadan dan salat lima waktu sehari? Please, deh.

Ketika majalah fm berulang tahun ke-35, saya terkesan dengan pernyataan seorang ibu yang sangat saya hormati, yang menyebutkan kalau majalah ini akan selalu menjadi sahabat wanita Indonesia dalam memberdayakan diri. Tapi artikel ini menyentakkan saya ke dalam kenyataan pahit. Majalah wanita terbesar di republik ini ternyata tetap mengkampanyekan konservatisme, mendukung patriaki dan tidak memberdayakan perempuan untuk melawan penindasan.

Saya tidak marah pada artikel ini, penulis maupun editornya. Namun saya merasa sangat sedih tulisan sampah semacam ini bisa menjadi artikel di sebuah majalah yang sudah saya baca sejak mulai bisa membaca. Ibu saya merupakan pelanggan setia majalah ini sampai dia berhenti karena merasa majalah ini sudah “terlalu muda” untuknya.

Teruslah berjuang untuk memberdayakan perempuan di republik ini, sahabat. Jangan merendahkan diri menjadi sekelas tabloid gosip murahan. Saya tahu pasti, kalian jauh lebih baik dari itu.