Kembali ke Orba? Amit-amit!

Ojo percoyo.. :-D

Ojo percoyo, yo.. Babar blas ora penak! :-D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Piye kabare? Enak jamanku, to?

Beberapa tahun terakhir, kalimat yang seolah-olah diucapkan oleh almarhum Soeharto ini menjadi idiom yang sangat populer. Digabung dengan gambar si mantan presiden yang seolah-olah tengah menyapa, kalimat ini banyak muncul di bak belakang truk, stiker, hingga kaos yang dijual di banyak kota di Indonesia. Konon, kaos bergambar Soeharto ini menjadi best seller kedua setelah kaos Jokowi. Baca lebih lanjut

Sipil

Polisi saat masih berada di bawah ABRI melakukan represi pada mahasiswa selama Reformasi 1998.

Polisi saat masih berada di bawah ABRI melakukan represi pada mahasiswa selama Reformasi 1998.

Sewaktu kecil, makna “sipil” yang saya pahami artinya gampang atau tidak penting. “Kamu bisa ngerjain itu, nggak?” “Ah, sipil!” Itu artinya, “gampang lah, cuma kayak gitu aja kok”.

Tentu saja waktu itu saya tidak memahami alasan “sipil” dianggap gampang dan tidak penting sama sekali. Baru saat mahasiswa saya memahami ada konteks politik di balik pemaknaan ini. Baca lebih lanjut

Tuntaskan Reformasi! Sekarang!

Beberapa waktu lalu, Didit, anak saya bertanya, “Pa. Nanya, dong. Buat PKN. Apa sih tuntutan mahasiswa waktu Reformasi 1998?”

Saya terdiam sejenak.  Tidak pernah terbayang oleh saya, pertanyaan semacam itu akan masuk ke pelajaran “Pendidikan Kewarganegaraan”  – pengganti “Pendidikan Moral Pancasila” yang digunakan Orde Baru untuk mendoktrin anak-anak sekolah selama tiga dasawarsa. Baca lebih lanjut

Jokowi-Ahok, Standar Baru Pemimpin Indonesia

Jakarta BaruIni tulisan kedua saya tentang pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jowoki dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kalau tulisan pertama dibuat menjelang pemilihan gubernur putaran satu, tulisan kedua ini juga saya selesaikan dua hari menjelang pemilihan gubernur putaran dua, 20 September 2012.

Jadi kalau ada yang menuduh saya membuat tulisan ini untuk mendukung pasangan tersebut, ya sah-sah saja. Memang saya sangat mendukung mereka, kok. Alasan mengapa awalnya saya mendukung mereka bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya, “Mengapa Saya Mendukung Jokowi-Ahok?

Tadinya tulisan kedua ini akan saya beri judul “Mengapa Harus Jokowi-Ahok?”. Tapi karena judulnya sangat mirip dengan tulisan pertama, saya ganti untuk menghindari dibilang nggak kreatif. Walaupun sebenarnya ya biarin saja, wong dimuatnya ya di blog saya sendiri. He he he.. :-D

Baca lebih lanjut