Negaraku carut-marut
Pejabatnya cuma bisa mikirin perut
Sama urusan bawah perut
Masalah dibiarkan centang-perenang
Yang penting para cukong senang
Tak apa rakyat tak makan
Yang penting bapak bisa punya istri delapan Lanjut membaca
Negaraku carut-marut
Pejabatnya cuma bisa mikirin perut
Sama urusan bawah perut
Masalah dibiarkan centang-perenang
Yang penting para cukong senang
Tak apa rakyat tak makan
Yang penting bapak bisa punya istri delapan Lanjut membaca
Sri.. Sri.. Kamu kok makin ngetop saja to, Sri?
Tiap hari jadi berita koran di halaman satu
Masuk tivi
Dipuja-puji, bagai dewi suci
Sri.. Sri.. banyak yang mencalonkan kamu jadi pemimpin negeri
Tak lagi peduli dengan Century Lanjut membaca
Minggu siang, di perempatan Lebak Bulus
Saat matahari sengat kepala
Dua gadis kecil naik ke atas Kopaja
Menengadahkan tangan, harapkan belas kasihan seadanya
Selembar uang ribuan diterima dengan suka cita
Pattimura digabungkan dengan recehan dalam botol akua
Kemudian dibagi dua
Kerjasama sederhana
Dua insan muda belia
Yang seharusnya sedang bergembira
Di tengah sanak saudara
Bukan koalisi berbagi kuasa
Untuk jarah uang rakyat, esok lusa
Gadis cilik ditemani wanita setengah baya
naik ke dalam bus
Pukul setengah sepuluh malam
Sehari usai Pemilu Parlemen 2009
Bus berjalan perlahan, tinggalkan belahan barat ibukota
Wanita setengah baya memutar kaset disko dangdut
Bersaing dengan gemuruh mesin dan roda menggilas jalan tol
Gadis kecilpun bernyanyi
Mencoba kalahkan deru bus dan dentum musik
Ini bukan kicauan calon anggota dewan
Yang berbulan-bulan jual tampang
Menyesaki ruang publik dengan ribuan bualan
Gadis cilik bermata letih bermuka enggan
Seharusnya sudah lelap di peraduan
Larut malam masih kumpulkan recehan
Di negeri yang baru saja buang duit triliunan
Agar ratusan orang bisa ngantor di Senayan
Sang gadispun berhenti benyanyi
Tertidur di bangku kosong
Coba puaskan kantuk yang menyerang
Ini bukan panggung politik negeri
tempat ratusan ribu cangkem baru saja berhenti umbar janji
Dan segera diganti babak baru panggung komedi
Tidak ada ratusan ribu simpatisan
Yang menunggu uang bayaran
Hanya puluhan tubuh tergeletak lelah
Di atas bus bertarif dua ribu lima ratus rupiah
Aku muak dengan senyum kalian!
Merusak pohon-pohon rindang
Mengotori tiang-tiang jalanan
Bersaing dengan iklan film kuntilanak di perempatan
Seringai lebar tanpa keikhlasan
Sama seperti serigala siap menerkam
Kalian buang duit miliaran
Memancing pundi-pundi yang lebih besar
Senyum kalian akan makin lebar di Senayan
Saat terima uang usai tidur di tengah sidang
Saat bos BUMN selipkan amplop ke tangan
Tertawa saat bikin Undang-undang yang bikin semua hal jadi mahal
Tersenyum simpul saat loloskan aturan yang tak masuk akal
Nyaman nikmati kursi empuk di ruang sejuk
Saat jutaan orang susah cari gawean
Anak-anak tak bisa sekolah
Ribuan tergusur atau terusir lumpur
Aku muak dengan senyum kalian!
Jakarta Selatan, 5 Maret 2009