Saya pertama kali mendengar gagasan tentang domain khusus desa sekitar satu tahun lalu. Selesai sebuah rapat Badan Pengurus Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di akhir April 2012, Ketua Umum PANDI, Andi Budimansyah, menunjukkan sebuah email kepada saya. Lanjut membaca
Arsip Kategori: Tren Digital
Membaca detikcom di Kamar Mandi
“detikcom tidak bisa dibaca di kamar mandi”.
Itulah jawaban yang selalu dilontarkan oleh Pemimpin Redaksi detikcom, Budiono Darsono, sekitar sembilan-sepuluh tahun silam, jika ada yang bertanya apa kelemahan media yang dipimpinnya dibandingkan dengan media cetak seperti Kompas.
Saat itu detikcom baru saja naik daun. Budiono pun sibuk didhapuk menjadi pembicara di berbagai kesempatan untuk menjelaskan keunggulan media online itu. Puluhan hingga ratusan peserta seminar selalu tersihir oleh kemampuan bicara wartawan yang dicekal oleh Harmoko selama Orde Baru itu. Hampir selalu terjadi, di akhir acara ada pertanyaan semacam ini: “Apakah detikcom akan mengalahkan media cetak? Apa yang membuat koran-koran bisa bertahan melawan detikcom?”
Dan itulah jawaban seorang Budiono. Jawaban yang sebenarnya sombong, tapi selalu dapat ditampilkan secara humble dan elegan. Bagaimana tidak sombong, jawaban itu sebenarnya sama saja menyatakan satu-satunya kelemahan media yang dipimpinnya adalah keterbatasan teknologi Internet saat itu, yang hanya bisa diakses melalui komputer berukuran besar.
Tapi itulah Budiono. Saya tidak akan pernah lupa ekspresinya setiap kali menasihati, “Git, kalau kamu selingkuh jangan pernah ngaku. Kalau ketangkep basah, bilang aja:wong kita lagi main dokter-dokteran, kok”. Ucapan ini selalu ditampilkan dengan nada kalimat dan ekspresi muka jenaka yang kadang membuat kita tak sadar, kalau ucapan itu sebetulnya sangat kurang ajar.
Ekspresi khasnya juga bisa dijumpai saat menjelaskan bahwa ejaan yang benar adalah “mengubah”, bukan “merubah”. “Yen ‘rubah’ kuwi kewan,” sambil tangannya menirukan sikap rubah yang mau menerkam mangsanya. Ya itulah Budiono, yang selalu membuat saya dan sahabat saya, Iwan “Najis” Triono, sering berucap, “Kita kan sama-sama Budionois”.
Kembali ke soal kamar mandi, perkembangan teknologi informasi sekarang membuat jawaban di awal tulisan ini tidak lagi valid. Jadi saya yakin, Budiono pun tidak akan memakai jawaban itu lagi.
Meskipun masih lebih suka membawa “Kompas” untuk menemani “ritual pagi”, saya bisa dengan mudah membaca detikcom di kamar mandi menggunakan ponsel saya. Apalagi sudah berbulan-bulan saya membawa ponsel ke manapun, termasuk ke kamar mandi. Terakhir kali saya membiarkan ponsel tergeletak, terjadi keributan besar di rumah saya. Ya, mungkin saya harus lebih lama nyantrik pada seorang Budiono agar bisa meniru mimiknya saat mengucapkan, “wong kita lagi main dokter-dokteran, kok!”
Sejatinya sekian tahun lalu saya sudah mulai membaca detikcom di kamar mandi. Saat kemampuan mobile Internet belum sehebat sekarang, saya salah seorang pengakses setia WAP detik. Saya berhenti mengakses situs mobile berbasis teks itu saat akun milik teman saya ditutup. Ya, saya memilih mengaksesnya bukan karena alasan sentimentil, tapi karena mendapat akun gratis dari seorang teman yang saat itu juga keluar dari detikcom dan bergabung dengan tim majalah saya. Buat saya, berita Internet seharusnya bisa diakses gratis. Sayangnya, pada situs-situs WAP lain yang gratis, beritanya tidak berkualitas.
Ketika akses mobile Internet menjadi semakin baik, di awal-awal maraknya UMTS dan HSDPA, saya lebih suka membuka detikcom menggunakan laptop. Tentu saja kebiasaan ini membuat saya enggan membawanya ke kamar mandi. Selain sedang tidak mampu membeli yang baru jika perangkat ini tersiram air, panas yang dihasilkannya sangat mengganggu untuk diletakkan di atas pangkuan. Jangankan saat tidak mengenakan celana, dengan celana jeans pun panasnya membuat salah satu organ tubuh saya menjadi tidak nyaman.
Saya pertama kali aktif kembali menggunakan mobile Internet untuk mengakses Facebook. Aplikasi ini sangat menghibur saat harus menunggu dan sedang berada di atas angkot, bus kota atau KRL Jabotabek. Yang menyenangkan, tidak seperti beberapa tahun lalu, masyarakat sekarang sudah terbiasa menggunakan ponsel di kendaraan umum. Jadi bermain-main Facebook dengan ponsel di atas angkot, Kopaja atau Metro Mini tidak akan menarik perhatian orang seperti – katakanlah – di awal abad ini.
Saya bahkan menjumpai beberapa orang yang sudah nyaman membuka laptop di atas bus kota yang kosong atau di atas KRL. Kalau kemampuan baterai laptop saya masih sama seperti saat dibeli, mungkin saya juga akan melakukannya – setelah membeli bantal tipis agar radiasi panasnya tidak mengalir menembus celana. Baru punya anak satu, je!
Saya mulai rutin lagi membaca detikcom di ponsel sejak berhasil menghidupkan kembali tombol delete. Salah satu efek samping terlalu sering membawa ponsel ke kamar mandi adalah rusaknya beberapa fungsi tombol di ponsel saya, termasuk back dan delete. Setelah saya utak-atik sedikit, akhirnya saya bisa menghapus default “www.” padabrowser dan mengetikkan “m.detik.com” di situ. Sejak itu, detikcom masuk di bookmark, menemani Facebook dan Yahoo! Messenger.
Berapakah jumlah penduduk Indonesia yang memiliki kebiasaan seperti saya? Yang jelas, jumlah pengguna ponsel di republik ini sudah berada di atas 130 juta. Pengguna ponsel 3G di kisaran 10 juta dan pada akhir tahun ini pengguna Blackberry diperkirakan akan mencapai 1 juta orang.
Kalau sejuta pengguna Blackberry ditambah 20 saja persen pengguna ponsel 3G mengakses detikcom di perangkat mobile-nya, artinya lebih banyak orang yang bisa membaca detikcom di kamar mandi daripada membaca Kompas (cetak).
Jadi, selamat membaca detikcom di kamar mandi. Saran saya, jauhkan ponsel Anda dari siraman air. Ponsel 3G Anda tidak seharga Rp 3.500,- yang bisa dibuang setiap saat jika kuyub tersiram air.